Ilmuwan Temukan Jawaban Gen Pemicu Hidup Kekal

Imajinasi 'hidup kekal' seperti McCloud Highlander mungkin masih terlalu jauh dari kenyataan. Namun, menjadi awet muda tentu banyak orang yang tertarik.
Ilmuwan berhasil menemukan empat gen ‘Father Time’ yang menentukan seberapa cepat manusia menua serta bagian mana yang mengendalikannya. Gen ini menyala dan mati berdasarkan faktor lingkungan dan gaya hidup atau memang sudah diprogram sejak awal.
Peneliti yakin, mengetahui cara kerja gen ini akan membawa pada obat anti penuaan generasi baru.
“Kami menemukan, perubahan epigenetic berkaitan dengan sifat usia. Menggunakan pengetahuan yang kami dapat, kami bisa lebih memahami mekanisme biologis,” kata Dr Jordana Bell dari King’s College London.
Di sisi lain seperti dilaporkan Dailymail, direktur kampus itu, profesor Tim Spector mengatakan, hasil studi ini memberi pandangan pertama potensi untuk mencari gen terkait penuaan dan cara memodifikasinya untuk mulai menciptakan terapi anti penuaan.

5 Negara Kepadatan Penduduknya Paling Rendah

Tahukah kamu seberapa padat Indonesia, negara kita tercinta ini? Ternyata, Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki tingkat kepadatan lumayan tinggi di dunia 126 jiwa / km2. Sedangkan wilayah terpadat di dunia adalah Makau dengan populasi sebanyak 17.684 jiwa / km2.

Namun kali ini kita akan membahas negara – negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah di dunia. Umumnya kepadatannya hanya 2 jiwa / km2. Yuk, kita lihat 5 wilayah yang jarang ditempati orang di dunia ini.

5. Mauritania
Kepadatan penduduk : 3 jiwa/km2.

Republik Islam Mauritania adalah sebuah negara yang terletak di barat laut Benua Afrika. Negara ini berbatasan dengan Samudra Atlantik di sebelah barat, Senegal di sebelah barat daya, dan Mali di sebelah timur dan tenggara, Aljazair di timur laut, dan Maroko di barat laut. Dengan luas wilayah hampir menyerupai Negara Mesir atau Ontario, Mauritania hanya ditempati oleh 3 juta orang saja.

4. Islandia
Kepadatan penduduk : 3 jiwa/km2


 
Negara Republik Islandia adalah sebuah negara berbentuk pulau yang terletak di Eropa Utara. Pulau Islandia ini mengapung di Samudra Atlantik dan berada diapit oleh daratan Eropa dan Greenland. Luasnya hampir mirip dengan negara bagian Kentucky atau daerah bekas Jerman Timur. Pulau ini hanya dihuni oleh 300.000 penduduk. Di pulau ini terdapat banyak geyser.

 
3. Suriname
Kepadatan penduduk : 2,7 jiwa/km2



 
Republik Suriname adalah sebuah negara yang terletak di bagian utara dari negara Amerika Selatan. Suriname sendiri berbatasan dengan Guyana di sebelah barat, Brazil di daerah selatan, Prancis di sebelah timurnya dan Samudra Atlantik di sebelah utara. Luasnya hampir seukuran dengan Wisconsin Tunisia. Wilayah ini ditempati oleh 450.000 jiwa dengan beragam bahasa yang dimiliki.

 
2. Australia
Kepadatan penduduk : 2,6 jiwa/km2



Australia adalah negara persemakmuran Inggris. Negara Persemakmuran Australia ini sebenarnya adalah sebuah pulau benua. Pulau benua Australia ini mengapung diantara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. 
Benua Australia ini memiliki ukuran yang hampir mendekati luas Amerika Serikat yang memiliki 48 negara bagian yang berdekatan. Luasnya pun mencapai hampir 2 kali dari luas Uni Eropa. Namun, benua Australia sendiri hanya dihuni oleh 21 juta orang. 


 
1. Namibia
Kepadatan penduduk : 2,5 jiwa/km2



Republik Namibia adalah sebuah negara yang terletak di sebelah barat Benua Afrika. Namibia sendiri berbatasan dengan Samudra Atlantik di sebelah baratnya, lalu dengan Afrika Selatan di sebelah selatan, Botswana di sebelah timurnya dan Angola yang terletak di sebelah utara. 
Namibia memiliki luas seperti Ontario atau Pakistan. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah sebagian besar dari 2 juta penduduk yang menghuni Namibia mengidap penyakit HIV / AIDS.

Dinosaurus Buang Angin Pengaruhi Iklim Bumi

Ilmuwan asal Inggris memperkirakan gas metana yang dibuang oleh Sauropoda, termasuk spesies Brontosaurus, pada masa lalu telah mengubah iklim dunia.

Mereka mendapatkan hasil bahwa Sauropoda secara global mampu memproduksi 520 ton gas rumah kaca per tahun pada masanya. Dengan jumlah itu, menurut ilmuwan, gas yang dibuang oleh dinosaurus bisa memengaruhi iklim 150 juta tahun lalu.



Hasil riset yang dilakukan David Wikinson dan rekan-rekannya dari John Moore's University di Liverpool, University of London, dan University of Glasgow, ini dimuat dalam edisi terbaru jurnal Current Biology. Sauropoda, seperti Apatosaurus louise (dikenal dengan Brontosaurus), ialah fauna darat raksasa yang memakan tumbuhan pada masa Mesozoic jutaan tahun lalu.

Bagi Wikinson dan rekan, hal yang menarik dari Sauropoda bukanlah ukuran besarnya, melainkan populasi mikroorganisme yang ada di dalam saluran pencernaannya.

"Ekologi mikroba dan perannya pada planet kita adalah salah satu ketertarikan saya dalam ilmu pengetahuan. Meskipun elemen dinosaurus yang membuat riset ini populer, sebenarnya mikroba yang ada dalam dinosaurus itulah yang memproduksi metana," kata Wikinson seperti dikutip BBC.

Metana diketahui sebagai gas rumah kaca yang menyerap radiasi inframerah dari Matahari, menjebaknya di atmosfer Bumi sehingga memengaruhi suhu Bumi. Suhu Bumi diketahui meningkat 10 derajat celsius pada era Mesozoic.

Dengan menggunakan pengetahuan bahwa emisi dari ternak berpengaruh pada level metana global, peneliti menggunakan data yang ada sekarang untuk memperkirakan bagaimana Sauropoda memengaruhi iklim Bumi.

"Sapi saat ini memproduksi 50-100 juta ton metana per tahun. Perkiraan terbaik kami pada Sauropoda, mereka memproduksi 520 juta ton," papar Wikinson.

Para peneliti mengungkapkan bahwa gas buang dinosaurus menyumbang emisi metana yang lumayan besar. Sebagai perbandingan, emisi metana saat ini 500 juta ton per tahun dari hewan dan aktivitas manusia seperti produksi daging.

Meski demikian, dinosaurus bukan merupakan satu-satunya penyebab peningkatan suhu Bumi jutaan tahun lalu. "Ada sumber metana lain pada masa Mesozoic sehingga total level metana jauh lebih tinggi daripada saat ini," kata Wikinson.

Mengenal 10 Gejala-Gejala yang Muncul Sebelum dan Sesudah Kematian

Kematian adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari, bahkan tidak bisa diketahui kapan terjadinya, karena yang mengetahui umur seseorang hanyalah Tuhan semata. Namun dalam postingan kali ini kami mengetengahkan gejala-gejala yang muncul saat orang akan/telah meninggal.

1. Death Rattle



Death Rattle adalah istilah umum rumah sakit saat pasien yang hendak meninggal mengeluarkan suara yang mengerikan, namun apa sebab suara ini keluar?

Hal ini terjadi setelah hilangnya refleks batuk dan kehilangan kemampuan untuk menelan. Hal ini menyebabkan akumulasi kelebihan air liur di tenggorokan dan paru-paru.

Meskipun jarang menyebabkan nyeri kepada pasien, anggota keluarga akan merasa resah dan terganggu karena suara ini.

Siapa pun yang pernah mendengar suara kematian mungkin akan teringat-ingat terus. Penyedotan, obat anti nyeri dan anti-kecemasan biasanya diberikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien.


2. Cheynes-Stokes Respiration


Ini adalah pola pernapasan yang sangat abnormal ditandai dengan napas yang sangat cepat dan kemudian periode tidak bernapas (apnea). Dalam jangka pendek, jantung menjadi lemah dan terlalu banyak bekerja, ini membuat tubuh hiperventilasi (bernapas normal cepat) dan, kemudian, tidak ada energi lebih untuk bernapas untuk jangka waktu lama (apnea).

Ini berarti organ-organ semakin kekurangan darah, dan dengan demikian, oksigen kurang. Tanpa oksigen, sel-sel di organ mulai mati, organ-organ mati dan akhirnya kematian individu tersebut.

Meskipun juga dapat terjadi pada orang dengan gagal jantung, atau gangguan pernapasan lainnya, biasanya gejala ini hadir pada saat kematian akan datang.


3. Defecation


Setelah kematian, setiap otot dalam tubuh manusia akan berhenti untuk menerima energi dalam bentuk ATP. Akibatnya, perut akan relaks dan buang air besar dapat terjadi. Hal ini terutama berlaku pada individu yang telah makan dalam periode lama sebelum waktu kematian mereka.

Faktor lain yang berkontribusi buang air besar setelah kematian adalah seberapa cepat tubuh seseorang biasanya mencerna makanan. Hal ini ditemukan lebih sering dalam kematian tak terduga daripada kematian normal.

Pasien di pusat-pusat rumah sakit mungkin tidak memiliki nafsu makan selama beberapa hari sebelum kematian, dan dengan demikian, mungkin tidak akan buang air besar pada tempat tidur mereka.


4. Rigor Mortis


Rigor Mortis adalah kekakuan setelah kematian, tidak hanya manusia bahkan binatang pun mengalami rigor mortis.

Setelah kematian, tubuh tidak mampu untuk memecahkan ikatan yang menyebabkan keadaan kontraksi terus-menerus. Dalam kebanyakan kasus, rigor mortis dimulai dalam 1-3 jam setelah kematian, dan mulai benar-benar kaku setelah 24 jam.

Bahkan kelopak mata pun mengalami rigor mortis, jika setelah 3 jam kelopak mata tidak ditutup maka mata si mayat akan tetap terbuka. Rigor mortis juga mempengaruhi otot-otot lain, menyebabkan jantung kelihatan membesar, air mani keluar sendiri, dan munculnya tonjolan-tonjolan di tubuh mayat.


5. Livor Mortis


Livor mortis adalah warna ungu-merah yang muncul ketika darah tenggelam kebagian tubuh tertentu. Livor mortis terjadi dalam area tubuh yang menyentuh tanah atau yang menerima tekanan karena kapiler yang dikompres.

Ini mirip dengan menekan jari Anda pada lengan Anda selama beberapa detik dan mengamati sidik jari anda menjadi putih selama sekitar tiga detik.

Konsep ini membantu koroner menentukan posisi kematian. Kehadiran atau ketidakhadiran koroner juga dapat membantu untuk menentukan perkiraan waktu kematian. Hal ini biasanya dimulai 1-2 jam setelah kematian dan menjadi permanen atau 'tetap' dalam 6-12 jam.


6. Algor Mortis


Adalah turunnya temperatur tubuh seiring dengan kematian. Terjadi bila suhu diluar lebih dingin dari suhu tubuh. Orang yang meninggal di lantai kamar mandi lebih cepat turun suhu tubuhnya daripada orang yang meninggal di luar kamar mandi.

Anak kecil lebih cepat turun suhu tubuhnya daripada orang gemuk. Namun normalnya butuh 24 jam sampai tubuh benar-benar menjadi dingin atau suhu tubuhnya sama dengan lingkungan sekitar.


7. Tache Noire


Tache Noire, secara harfiah berarti 'titik hitam', adalah garis cokelat gelap kemerahan yang akan membentuk horizontal di bola mata. Selama hidup, bola mata tetap lembab karena berkedip, tapi kadang-kadang mereka tidak lagi dilindungi setelah kematian.

Oleh karena itu, Tache Noire akan terjadi pada individu yang kelopak mata tidak tertutup setelah kematian. Demikian pula, membran mukosa lain seperti lidah yang akan gelap setelah terpapar udara yang terlalu lama.

Jika individu tenggelam, atau tubuh itu ditemukan dalam air, NoireTache tidak akan ditemukan sebabnya adalah karena bola mata harus terkena udara kering.


8. Purge Fluid


Adalah cairan berwarna merah kecoklatan yang keluar dari mulut dan lubang anus, sering disalahartikan sebagai cedera otak atau darah biasa. Ini muncul sebagai akibat dari gas yang terbentuk di seluruh tubuh.

Ketika terjadi pembentukan gas dalam perut dan usus, perut dapat menjadi tegang dan buncit. Selanjutnya, peningkatan tekanan abdomen menyebabkan pembersihan cairan kotor, darah kebiruan dari vagina, mulut dan hidung.

Sebuah cairan bercampur kotoran yang sama juga akan muncul dari rektum (anus). Purge Fluid dapat berguna dalam menentukan waktu kematian. Jika seseorang meninggal dalam iklim panas, seperti Texas atau Meksiko, cairan ini dapat dilihat dalam waktu kurang dari 24 jam.


9. Degloving


Setelah kematian kulit akan mengelupas, terutama kulit pada jari-jari dan kuku, gejala ini membuat kulit mengelupas seperti sarung tangan atau kaos kaki. Hal ini terjadi sebagai akibat dari pembengkakan gas pada batang leher dan anggota badan, yang menjadi bengkak sehingga seseorang dapat mengira mayat itu obesitas.

Ketika gas busuk berada di bawah sejumlah besar tekanan, mereka melepaskan diri dari tubuh dan seluruh massa yang membusuk hancur bersama jaringan lunak.

Degloving adalah istilah yang tepat karena anda dapat menarik kulit tangan mayat seperti anda melepas sarung tangan. Uniknya walau kulit luar dapat mengelupas, sidik jari si mayat masih tetap ada.


10. Maceration


Maserasi berarti 'lunak dalam rendaman' dalam bahasa Latin. Hal ini mengacu kepada bayi yang mati dalam rahim, antara bulan keenam dan bulan kesembilan kehamilan.

Dekomposisi mereka sedikit berbeda karena terendam lama di dalam cairan ketuban. Mereka menyerupai mayat direndam dalam air. Kulit bayi akan terlihat seperti mendidih atau 'terbakar' karena kulit mereka terlepas dari tubuh.

Jika bayi tersebut tetap berada di rahim selama beberapa hari, tengkorak mulai hancur dan otak mulai mencair. Jika bayi dikeluarkan dari rahim dalam waktu 24 jam setelah mereka mati, dan udara masuk ke dalam tubuh sang ibu maka bukan maserasi yang terjadi namun pembusukan.